Saturday, July 8, 2017

Visi Fadlan Rabbani Garamatan, Siapkan Kado HUT RI ke-100 dengan Generasi Qurani

“Kami tidak mengutus engkau melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.” Inilah tujuan bagi dakwah Islam. Itu pula yang diyakini Fadzlan Rabbani Garamatan, seorang dai asal tanah Papua. Di internet, nama Fadzlan Garamatan identik dengan sebutan ustadz sabun mandi.


Ia bercerita asal mula sebutan itu saat tim YDSF berkunjung ke Ponpes Nuu Waar yang ia pimpin di kawasan Setu, Bekasi pada akhir Desember lalu. “Kita harus berdakwah sesuai keadaan setempat. Kondisi alam di Irian memang begitu. Orang pedalaman butuh waktu 10 hari dari pedalaman ke kota terdekat. Maka, pakaian adalah hal yang langka di sana saat itu,” ucap Fadzlan ketika mengenang awal dakwah pada era 1980an.

Selain itu, Fadzlan mengungkapkan bahwa pihak misionaris menanamkan pemahaman bahwa koteka itu pakaian kebudayaan yang mahal harganya. “Ada upaya-upaya agar masyarakat Irian tetap bodoh, miskin dan tertinggal. Tujuannya agar potensi alam di sana bisa terus mereka kuasai,” tegasnya.

Mengenang KH. Muammal Hamidy | Pernah Mengenyam Pendidikan di Lima Ormas Islam

(KH. Muammal Hamidy,  1 September 1940- 14 April 2015)  
Ustadz Muammal Hamidy adalah Pimpinan Pesantren Tinggi Ilmu Fiqih dan Dakwah Ma'had Ali, Bangil, Kabupaten Pasuruan. Almarhum dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah Jawa Timur.


Muammal Hamidy terlahir di Desa Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan pada 1 September 1940. Mental dan sikap keagamaannya terbentuk dari lingkungan keluarganya yang santri.




Muammal kecil menghabiskan lebih banyak waktunya untuk belajar ngaji di langgar. Sejak menginjak usia SD, bersama bocah-bocah desa lainnya, Muammal sudah mulai tidur di langgar. Hanya ketika bulan puasa, saya pulang untuk sahur. Setelahnya, ya kembali lagi ke langgar, ujarnya. Dengan membaca oncor, Muammal meniti jalan setapak desa yang gulita itu.

Waktu itu, langgar adalah pusat kegiatan bocah-bocah di kampungnya. Selain aktif belajar di Langgar Kyai Basyarun, dia juga aktif di Langgar Kyai Khudlori. Ngaji, belajar ilmu umum, mandi, dan tidur pun di langgar, terangnya. Kalau tidak mengaji di langgar, saya pasti dipukul orangtua, tambahnya.

Karena tiap hari hidup di langgar, maka wajib baginya untuk ikut merawat. Kami semua mendapat giliran jadwal mengisi bak mandi, tutur putra pasangan H. Munawar dan Mariyah ini. Muammal juga bersekolah di SR (Sekolah Rakyat). Ketika terjadi Agresi Militer Belanda kedua di akhir 1948, sekolahnya terhenti.