“Kami tidak mengutus engkau melainkan menjadi rahmat bagi
seluruh alam semesta.” Inilah tujuan bagi dakwah Islam. Itu pula yang diyakini
Fadzlan Rabbani Garamatan, seorang dai asal tanah Papua. Di internet, nama
Fadzlan Garamatan identik dengan sebutan ustadz sabun mandi.
Ia bercerita asal mula sebutan itu saat tim YDSF berkunjung
ke Ponpes Nuu Waar yang ia pimpin di kawasan Setu, Bekasi pada akhir Desember
lalu. “Kita harus berdakwah sesuai keadaan setempat. Kondisi alam di Irian
memang begitu. Orang pedalaman butuh waktu 10 hari dari pedalaman ke kota
terdekat. Maka, pakaian adalah hal yang langka di sana saat itu,” ucap Fadzlan
ketika mengenang awal dakwah pada era 1980an.
Selain itu, Fadzlan mengungkapkan bahwa pihak misionaris
menanamkan pemahaman bahwa koteka itu pakaian kebudayaan yang mahal harganya.
“Ada upaya-upaya agar masyarakat Irian tetap bodoh, miskin dan tertinggal.
Tujuannya agar potensi alam di sana bisa terus mereka kuasai,” tegasnya.
